Ternyata Revenge Porn Merugikan Banget Bagi Korbannya

Ternyata Revenge Porn Merugikan Banget Bagi Korbannya

“RUU PKS harus segera disahkan!”

Ini merupakan salah satu tuntutan yang diajukan oleh pihak perempuan di Indonesia. Hal ini dikarenakan banyaknya tindak pelecehan dan kekerasan seksual yang marak terjadi. Salah satu jenis kekerasan seksual yang kerap terjadi adalah Revenge Porn

Komisi Nasional (Komnas) Perempuan dalam Catatan Tahunan Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2018 mendefinisikan Revenge Porn sebagai bentuk penggunaan teknologi yang dimanfaatkan untuk menyebarkan konten yang dapat merusak reputasi korban atau organisasi pembela hak-hak perempuan terlepas dari kebenarannya. Dalam hal ini pelaku Revenge Porn menyebarluaskan konten-konten pornografi korban dengan motif balas dendam. 

Menurut Komisioner Komnas Perempuan, jumlah laporan dari kekerasan seksual jenis ini pun terus meningkat secara signifikan. Revenge Porn termasuk ke dalam kategori kekerasan seksual berbasis siber karena dilakukan melalui dunia maya namun dampaknya sangat besar terhadap korban di dunia nyata. Berikut beberapa dampak yang dirasakan oleh korban Revenge Porn.

Revenge Porn akan sangat berdampak pada kesehatan mental korban. Jika konten berbentuk video, foto atau bukti chat history dengan sengaja disebarluaskan, tentunya korban akan merasa sangat dirugikan. Beredarnya konten tersebut dapat berpengaruh bagi kesehatan mental si korban. Bisa jadi perasaan malu, kecewa dan depresi berkecamuk di benak korban dalam jangka waktu yang lama. Dampak yang mungkin terjadi akibat depresi adalah korban akan mengisolasi diri dari lingkungan sosial dan berpotensi untuk mengakhiri hidup.

Sanksi sosial yang diterima dari lingkungan sekitar korban. Dengan meluasnya persebaran konten pribadi korban, cepat atau lambat akan diketahui oleh lingkungan sekitar korban. Dampak dari hal ini, tidak menutup kemungkinan bahwa korban akan dikucilkan atau diperbincangkan dalam konteks negatif oleh rekan-rekannya. Atau lebih parahnya lagi akan berdampak pada jenjang karir korban. Bisa jadi korban akan kehilangan pekerjaan karena konten pribadinya disebarluaskan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sanksi hukum bagi pelaku dan korban. Pengamat hukum dari Universitas Al Azhar Jakarta mengatakan bahwa pasal 29 UU Pornografi bagaikan pedang bermata dua. Baik korban maupun pelaku Revenge Porn dapat terjerat pasal ini. Dampak ini akan sangat merugikan terutama pihak korban. Karena sudah menjadi korban, terancam pula oleh hukum pidana.

Melihat beberapa ulasan mengenai dampak pada korban Revenge Porn, lantas dukungan apa yang dapat kita berikan untuk korban?

Tentunya kita dapat menjadi pendengar bagi korban. Ketika penyintas merasa membutuhkan teman untuk menceritakan kekecewaannya, pastikan kita mendengarkan keluh kesahnya sampai ia merasa bebannya berkurang. 

Bentuk dukungan lain yang dapat kita lakukan adalah dengan menemaninya untuk melapor pada organisasi atau lembaga yang memiliki kapasitas untuk menangani kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Memberi dukungan dan menyemangati korban untuk berani melaporkan tindak kejahatan tersebut. 

Hal lain yang bisa kita lakukan yakni jangan terlalu memberikan penghakiman yang buruk terhadap penyintas Revenge Porn. Karena kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya dialami oleh korban. Sebaiknya kita tetap bersikap netral dan tetap bersosialisasi seperti biasanya.

Seperti itulah pembahasan mengenai Revenge Porn. Dengan memahami dampak dan bagaimana kita menyikapi penyintas pelecehan dan kekerasan seksual jadi kita lebih bijaksana dalam memberikan dukungan kepada mereka. Selain itu dengan adanya peristiwa tersebut diharapkan kita bisa saling menguatkan satu sama lain untuk bisa terbebas dari kejahatan seksual yang banyak terjadi.